About The Author

This is a sample info about the author. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis.

Get The Latest News

Sign up to receive latest news

Rabu, 10 Maret 2010

| 0 komentar |

Masuknya Atman Dalam Kandungan

Pernahkan anda menyangka bahwa Veda dalam hal ini Bhagavata Purana yang dituliskan ribuan tahun yang lalu telah menjelaskan secara detail mengenai proses terbentuk dan berkembangnya janin manusia? Uniknya, apa yang dijelaskan dalam Veda tersebut benar-benar sesuai dengan apa yang diketahui oleh kedokteran modern saat ini.

Dalam Bhagavata Purana 3.31.1 disebutkan; “,”Karmana daiva netrena jantur dehopapattaye stryah pravista udaram pumsa retah kanasrayah, dibawah pengawasan Tuhan Yang Maha Esa dan sesuai dengan perbuatan (karma)nya, sang makhluk hidup (jiva) di-masukkan ke dalam rahim sang ibu (oleh para Deva pengendali urusan material dunia fana) melalui mani sang ayah untuk memperoleh badan jasmani baru tertentu”

Lebih lanjut dalam Bhagavata Purana 3.31.2- 4 dan 10 dijelaskan bahwa Sang Jiwa memperoleh badan jasmani dan tumbuh berkembang dalam rahim sang ibu.

Bhagavata Purana 3.31.5-8 menyebutkan bahwa dengan memperoleh gizi dari makanan dan minuman yang di-konsumsi si ibu, sang jiva dalam janin tumbuh didalam rahim sang ibu, tetapi dalam kondisi sengsara karena:

  1. Ia tinggal dalam rahim ibu bagaikan seekor burung dalam sangkar yang tidak bisa bergerak bebas
  2. Ia tinggal dalam rahim ibu yang bagaikan ruangan amat sempit
  3. Ia tinggal dalam rahim ibu yang amat panas dan menyesakkan. Dan ia merasakan seluruh tubuhnya seperti terpanggang oleh panasnya api pencernaan si ibu
  4. Sang janin tidak sadarkan diri dari waktu ke waktu karena sangat menderita seperti itu
  5. Ia tiada henti merasakan derita akibat dari makanan si ibu yang terlalu pahit, terlalu pedas atau terlalu asin atau asam
  6. Ia benar-benar secara pisik terbelenggu/terkungkung tanpa kebebasan sedikitpun dan tanpa daya di dalam rahim dengan kepala merunduk ke arah perut. Punggung dan lehernya melengkung bagaikan busur.

Dalam Bhagavata Purana 3.31.9 – 16 menyebutkan bahwa sang makhluk hidup yang menderita dalam rahim si ibu cukup beruntung, maka ia bisa mengingat segala penderitaan yang dialaminya dalam seratu kali penjelmaannya yang telah lewat. Dalam derita diikat oleh tujuh lapis materi (5 unsur materi kasar + pikiran dan kecerdasan), si bayi berdoa kepada Tuhan yang telah menempatkan dirinya dalam kondisi demikian.

  1. Ia menyatakan diri hanya ber-lindung kepada Tuhan dalam beraneka-macam inkarnasi-Nya.
  2. Ia sadar sebagai jiva spiritual abadi yang kini dicengkram maya dan berulang-kali sujud kepada Tuhan dalam aspek Beliau sebagai Paramatma
  3. Ia tahu bahwa dirinya terpisah dari Tuhan karena terperangkap dalam badan jasmani sehingga salah menggunakan hidupnya
  4. Ia sadar bahwa dirinya kini menderita di alam material karena melalaikan Beliau yang manjadi penguasa segala sesuatu
  5. Ia berharap agar bisa kembali berhubungan dengan Tuhan Krishna dalam pelayanan bhakti kepada-Nya
  6. Ia berjanji akan kembali berserah diri kepada Nya agar bebas dari segala macam derita.

Lebih lanjut dalam Bhagavata Purana 3.31.17- 21 dinyatakan bahwa dalam kondisi Terendam dalam genangan darah yang kotor dalam perut sang ibu, si bayi sangat ingin segera keluar dari rahim. Ia menghitung-hitung berapa bulan sudah diri nya berada dalam kondisi amat menyengsarakan seperti itu. Ia berkata,”O Tuhanku, kapankah hambamu ini, sang jiva yang sengsara, akan bebas dari kurungan derita ini?”. Dan ia juga berdoa bahwa atas karunia Tuhan, ia menyadari betul kondisi dirinya begitu menderita meskipun baru berusia 10 (sepuluh) bulan dan Ia bersyukur karena telah diberikan badan jasmani manusia, sehingga bisa menginsyafi diri (sebagai jiva abadi rohani, pelayan kekal Tuhan). Ia berkata tidak mau keluar dari rahim sang ibu meskipun sangat menderita di dalamnya, sebab ia takut jatuh lagi ke dalam sumur gelap kehidupan material. “Tenaga material-Mu maya akan segera menangkap diriku, sehingga hamba menjadi tidak insyaf diri lagi begitu lahir kedunia fana, begitu ia berkata kepada Tuhan. “Paham ke-AKU-an palsuku akan seketika menyelimuti diriku yang merupakan awal dari siklus kelahiran dan kematian (samsara) yang menjerat diriku”. Ia pun berjanji, dengan bantuan kecerdasannya yang suci, akan selalu ingat pada kaki padma Tuhan agar bebas dari gelapnya kehidupan material dan siap lahir ke dunia fana.

Sedangkan dalam Bhagavata Purana 3.31.22-27 lebih lanjut dijelaskan bahwa saat sang Jiva berdoa demikian, angin yang menyebabkan proses kelahiran mendorongnya ke depan dengan kepala menghadap ke bawah. Sang bayi lahir keluar rahim dalam kesusahan amat besar dengan kepala mengarah kebawah tanpa berbernafas dan pingsan akibat penderitaan bukan kepalang. Di dunia fana, si bayi diasuh oleh orang-orang yang tidak memahami keinginannya, tidak mampu menolak apa saja yang diberikan kepada dirinya, dibaringkan di tempat kotor, dan ia tidak bisa menggaruk tubuhnya untuk meniadakan rasa gatal, apalagi duduk,berdiri dan berjalan. Di dunia fana, si bayi yang kulitnya masih amat lembut dan halus, tidak berdaya digigit kutu, agas, nyamuk dan binatang kecil lain. Ia telah kehilangan kearifan berpikir, lupa pada hakekat dirinya sebagai sang jiva rohani abadi (karena dikhayalkan oleh maya) dan menangis dengan sangat memilukan.

Dalam Bhagavad Gita 14.5. Sri Krishna berkata,”Sattvam raja tamah iti gunaih prakrti sambhavah nibadhnanti dehe dehinam avyayam, begitu sang makhluk hidup (jiva) berhubungan dengan alam material, ia seketika di-cengkram (oleh maya dengan tangan halus) Tri Guna yaitu tiga sifat alam material sattvam (kebaikan), rajas (kenafsuan) dan tamas (kegelapan)”

0 komentar:

Poskan Komentar

You must here