About The Author

This is a sample info about the author. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis.

Get The Latest News

Sign up to receive latest news

Rabu, 10 Maret 2010

| 0 komentar |

Politik Pencitraan...

by:ngarayana

Politik Pencitraan

“Siapa yang menguasai media, dialah yang keluar sebagai pemenang”. Pernyataan ini sudah sangat sering kita dengar pada abad 21 ini. Semua perusahaan yang bergerak baik dalam bidang sandang, papan dan pangan rela mengeluarkan budget milyaran rupiah hanya demi sebuah iklan produk di layar kaca, media cetak dan juga internet. Tidak jarang iklan-iklan tersebut digambarkan melebihi mutu produk yang sesungguhnya dan menggambarkan produk saingannya lebih rendah dari produknya. Orang terkenal dan para artis top dibayar mahal agar tampil sebagai jargon produknya meskipun sesungguhnya orang-orang tersebut hampir tidak pernah menggunakan produk yang dibintanginya. Pada akhirnya konsumen yang tidak jelilah yang pada akhirnya menanggung rugi akibat termakan iklan.

Pencitraan seorang tokoh politik juga tidak lepas dari “iklan”. Meskipun seorang tokoh tidak memiliki kualifikasi memadai dan memiliki background yang buruk, tetapi jika media mendukungnya dan mencitrakannya sebagai sosok yang superior, maka rakyat akan percaya bahwa dia adalah tokoh politik yang diidam-idamkan rakyat banyak.

Celakanya, Agama yang pada dasarnya juga merupakan produk imajiner ternyata juga diperlakukan sebagaimana halnya produk dan tokoh. Masyarakat dunia berkoar-koar bahwa agama adalah hak azasi manusia yang tidak dapat diinterferensi orang lain, bahkan orang tua dan pasangannya sendiri. Namun dibalik itu semua, penguasa media masa dan didukung oleh pemerintah secara tersembunyi dan terstruktur ternyata sudah menyiapkan “politik pencitraan” untuk kepentingan agama tertentu dan melakukan pendeskriditan terhadap agama-agama dan kepercayaan yang lainnya.

Dalam artikel-artikel sebelumnya saya sudah menuliskan beberapa fakta menarik dimana banyak tempat suci Hindu (candi) di Nusantara dijadikan kuburan, penterjemahan kitab suci Veda secara tidak tepat yang dilakukan oleh para Indologis dan bahkan terjemahan keliru tersebut dituliskan dalam kata pengantar beberapa kitab Al-Qur’an dan Al-kitab. Para kaum misionaris dan dakwah inipun bahkan tidak segan-segannya melakukan distorsi ajaran Hindu yang dilakukan secara “soft” dan juga “hard”.

Dari serat dharmo gandul dan sabdo palon kita dapat mengetahui bahwa masuknya Islam ke Nusantara pada awalnya dilakukan dengan cara damai, yaitu dengan jalan perdagangan dan perkawinan. Majapahit dibawah pemerintahan raja Brawijaya V menerima para pedangan Muslim dengan tangan terbuka, bahkan beliau mengijinkan para pedagang tersebut mendirikan pemukiman dan menyebarkan ajaran Islam di wilayahnya. Beliau juga bersedia mempersunting seorang istri yang tetap Muslim meskipun beliau sendiri tidak bersedia pindah menjadi muslim, bahkan beliau juga tidak berkeberatan jika anak-anaknya dari istrinya yang muslim dididik secara Islam. Lebih lanjut berdasarkan serat ini dikatakan bahwa setelah anak Brawijaya V dari istrinya yang muslim, Raden Patah beranjak dewasa. Raden Patah atas asutan Sunan Kalijaga secara terang-terangan melakukan kudeta terhadap ayahnya sendiri sehingga menyebabkan kerajaan Majapahit yang sangat besar hancur.

Fragmen sejarah berikutnya mengisahkan bahwa Sunan Kalijaga menyebarkan ajaran Islam dengan menggunakan media dakwah berupa wayang kulit dengan lakon Mahabharata dan Ramayana yang telah dimodifikasi. Dalam lakon Mahabharata, Sunan Kalijaga mengatakan bahwa Panca Pandawa menjadi sakti mandraguna dan tidak terkalahkan berkat senjata keramat yang mereka miliki, yaitu senjata “kalimosodo”. Kalimat “Kalimosodo” ini lebih lanjut dipelintir oleh Sunan Kalijaga menjadi “kalimat Syahadat” (Asyhadu alla ilaha ilallah wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rosuluh) yaitu kalimat yang pada intinya mengakui bahwa hanya ada satu Tuhan yaitu Allah dan mengakui bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Kalimat ini harus diucapkan sebanyak tiga kali oleh mereka yang akan masuk islam. Masalahnya, Sejarah mahabharata terjadi sekitar tahun 3000-an SM dan Muhammad baru hadir 1500-an tahun yang lalu. Bagaimana mungkin panca pandawa menggunakan jargon “kalimosodo” yang memuji Nabi Muhammad? Jika kita teliti kitab suci Mahabharata, kita tidak akan pernah menemukan kata “kalimosodo” di dalamnya.

Dari dua penggalan kisah ini, mungkin anda akan bertanya; Apakah boleh seorang anak menyerang ayahnya sendiri meskipun dia beda agama? Tidakkah ini tindakan durhaka menurut ajaran islam? Bolehkan menyebarkan agama dengan cara memodifikasi ajaran agama yang lain sebagaimana dilakukan oleh Sunan Kalijaga?

Jika memang benar Raden Fatah menyerang ayahnya, Brawijaya V dan Sunan Kalijaga menyebarkan ajaran Islam dengan cara memodifikasi kitab Mahabharata, bukankah hal itu dapat digolongkan sebagai “politik busuk” dalam penyebaran agama?

Proses islamisasi di Nusantara pada dasarnya tidak sertamerta selesai meskipun seluruh kerajaan Hindu dan Buddha di Nusantara runtuh. Bahkan sebagaimana disampaikan oleh beberapa tokoh dakwah islam di beberapa media mengindikasikan bahwa islamisasi belum rampung bahkan sampai pada era kemerdekaan RI. Mungkin hal ini disebabkan karena Agama Hindu dan Buddha di Nusantara sudah mengakar sangat kuat dan ditambah lagi dengan datangnya para penjajah Portugis, Belanda dan Inggris yang diboncengi para misionaris Kristen. Sehingga mau tidak mau para kaum dakwah harus bekerja ekstra keras di bumi nusantara ini.

Penemuan candi-candi yang berubah fungsi menjadi kuburan meninggalkan tanda-tanya besar di kalangan para arkeolog Indonesia. Politik pencitraan yang berlangsung selama berabad-abad telah menghasilkan semacam konspirasi yang menghasilkan pencitraan bahwa Islam di nusantara disebarkan secara damai dan masyarakat meninggalkan agama aslinya atas kesadarannya sendiri setelah mengetahui bahwa agamanya lebih buruk. Sebagaimana dalam comment seorang saudara muslim dalam artikel saya sebelumnya yang bersikeras menyatakan bahwa Islam memang disebarkan secara damai. Tetapi, diapun tidak dapat memecahkan misteri kenapa banyak candi yang berubah menjadi kuburan.

Okay-lah, terlepas dari kontroversi ini kita ikuti dulu alur yang menyatakan bahwa Islam disebarkan secara damai, tanpa pemaksaan dan peyiksaan fisik. Namun, para ahli juga tidak dapat menepis kebenaran dimana sunan Kalijaga dan beberapa tokoh dakwah lainnya menyebarkan agama dengan cara memodifikasi ajaran agama Hindu dan Buddha. Artinya penyebaran Islam di nusantara tidak lepas dari politik dan pendeskriditan.

Setelah media masa dan media elektronik berkembang pesat, tidaklah sulit untuk menemukan film atau sinetron yang mengambarkan dimana tokoh-tokoh yang bersorban, menggunakan tasbih, berpakaian kearab-araban dan sejenisnya digambarkan sebagai tokoh protagonis (tokoh yang baik) dan mereka yang menggunakan pakaian adat nusantara, menyelipkan keris di pinggangnya, menggunakan sarana menyan/dupa/hio, air dan bunga dalam sembahyang/ritualnya digambarkan sebagai tokoh antagonis (tokoh jahat). Hampir tidak ada satupun sinetron yang melibatkan dua tokoh berbeda tersebut meletakkan tokoh yang menggunakan pakaian adat dengan keris dan sarana ritual tradisional nusantara sebagai tokoh protagonis dan meletakkan mereka yang berpakaian arab sebagai tokoh antagonis.

Keris, batik dan wayang adalah tiga budaya nusantara yang diakui oleh PBB sebagai kekalayaan intelektual non-situs dan dikagumi oleh seluruh dunia. Namun ironisnya, akibat pencitraan buruk media masa, Keris selalu diidentikkan dengan klenik dan tindakan menyekutukan Tuhan. Wayang dipandang oleh sebagian orang sebagai berhala. Sangat jarang media yang dapat memberikan pencitraan positif terhadap ketiga kekayaan intelektual ini. Namun disaat kekayaan intelektual ini disababotase dan diagungkan oleh bangsa lain, barulah bangsa kita berteriak keras dan mencak-mencak bahwa itu adalah budayanya.

Penghancuran terstruktur budaya nusantara berlangsung secara berlahan tetapi pasti. Dan media masa-lah yang paling berperan dalam hal ini. Mereka yang menguasai media masa dan memiliki akses terhadap politik pencitraan akan berkuasa, tetapi mereka yang menutup mata akan hal ini sudah pasti akan mati terhimpit. Oleh karena itu, Umat Hindu yang selama ini selalu dijadikan objek pencitraan buruk harus segera menyadari hal ini dan berusaha mengimbangi dan/atau mematahkan politik busuk ini. Mari kita luruskan sejarah dan tegakkan dharma melalui sumbangsih kita sesuai dengan profesi dan skill kita masing-masing.

Sumber gambar; http://4.bp.blogspot.com/

0 komentar:

Poskan Komentar

You must here