About The Author

This is a sample info about the author. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis.

Get The Latest News

Sign up to receive latest news

Rabu, 03 Maret 2010

| 0 komentar |

Propaganda Agama

Berbicara masalah Tuhan yang abstrak memang gampang-gampang susah. Gampang karena Tuhan adalah abstrak, sehingga bersilat lidah, berbohong dan menipu atas nama Tuhan tidaklah sulit. Tapi Tuhan juga susah. Susah karena Beliau imajiner sehingga sulit dibuktikan dengan panca indra dan metode ilmiah yang diyakini oleh manusia modern saat ini yang memang sangat terbatas.

Berbagai macam agama, aliran, masab, sekte berloma-lomba melakukan propaganda bahwa agamanyalah yang paling baik, paling sempurna, paling terakhir, paling mudah dan paling segalanya. Semuanya berlomba-lomba merebut hati calon “konsumen”-nya baik dengan cara sportif maupun dengan tipu muslihat. Mereka sibuk berkoar-koar mengatakan bahwa hanya agamanyalah yang merupakan jalan TOL bebas hambatan menuju kenikmatan Surga.

Agama Kristen mengatakan bahwa Yesus adalah satu-satunya juru selamat, hanya dengan percaya padanyalah umat manusia akan mencapai surga. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu. Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok” (Yohanes 10:7-8).

Agama Islam mengatakan bahwa Islam adalah Agama yang terakhir dan merupakan agama yang disempurnakan oleh Allah. “Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kamu Agama kamu dan Aku lengkapkan nikmat-Ku kepada kamu dan Aku pilihkan untuk kamu Islam sebagai agama” (Quran 5:3).

Sebagaimana pernah saya bahas dalam artikel yang lainnya bahwasanya agama serumpun, yaitu Yahudi, Kristen dan Islam memang selalu mengklaim bahwa satu dengan yang lainnya saling menyempurnakan. Agama Kristen menyempurnakan Agama Yahudi yang ditandai dengan ucapan Yesus dalam Alkitab yang menyatakan bahwa beliau datang ke dunia ini bukan untuk menghapuskan Taurat/Torah (kitab suci Yahudi) meski hanya satu noktah(titik)-pun, melainkan hanya menggenapinya. Demikian juga dengan Islam yang mengatakan bahwa agamanya adalah penyempurnaan dari agama-agama sebelumnya dan Muhammad adalah Nabi yang terakhir. Dengan ayat Qur’an 5.3 ini seolah-olah semua kebenaran agama yang lain terkunci dan harus berakhir dengan pengakuan bahwa Islam adalah agama yang paling sempurna dan terakhir.

Perebutan akan “janji Tuhan” adalah suatu pertentangan yang selalu muncul dan yang tidak pernah terselesaikan pada agama-agama yang mendeklarasikan dirinya sebagai agama-agama langit yang menimbulkan pertikaian yang tiada hentinya di daerah Timur Tengah dan merenggut sangat banyak nyawa manusia. Hanya atas nama Agama dan Tuhan mereka saling bunuh. Semuanya mengaku sebagai prajurit Tuhan yang siap mati membela Tuhan. Untunglah hal ini tidak pernah terjadi pada agama-agama yang liberi label agama Bumi oleh para superior agama-agama langit ini.

Prajurit Tuhan? Membela Tuhan? Kata-kata yang sering kali terlontar dari mulut mereka. Entah mereka adalah pemeluk agama langit yang taat atau adalah oknum pemeluk agama langit. Saya tidak mau ambil pusing dan menjustis hal ini, biarlah mereka yang melabeli diri mereka masing-masing. Namun yang menjadi pertanyaan adalah “Apakah Tuhan masih perlu di bela?” Bukankah semua agama setuju mengatakan bahwa Tuhan adalah yang maha kuasa, maha perkasa dan maha kuat? Kalau demikian, buat apa membela Tuhan? Apakah Tuhan mereka lemah? Apakah para “prajurit Tuhan” jauh lebih kuat dari Tuhan mereka?

Semua agama pasti setuju bahwa Tuhan adalah maha sempurna, ciptaan Tuhan adalah sempurna, karena beliau maha mengetahui. Bukan begitu? Namun pertanyaannya, Apakah Kitab Suci juga diciptakan Tuhan? Kalau memang benar Kitab suci diciptakan oleh Tuhan yang maha sempurna dan maha tahu, tentunya kitab suci juga sempurna bukan? Kalau demikian halnya, kenapa Tuhan harus melakukan revisi, menyempurnakan dan mengklaim bahwa suatu kitab suci adalah yang paling akhir dan telah disempurnakan? Apakah Tuhan seperti seorang mahasiswa yang menyusun thesis? Menyusun sedikit demi sedikit, dirubah dan disempurnakan? Terus apa bedanya Tuhan dengan seorang mahasiswa? Jangan-jangan Tuhan mereka tidak maha sempurna dan maha tahu ya?

Namun artikel ini ditulis bukan untuk membahas itu, tetapi membahas sebuah buku yang ditulis oleh Maulana Abdul Haque Vidyarthi, seorang Muslim Ahmadiayah yang mengarang sebuah buku “Muhammad dalam kitab-kitab suci dunia” yang sangat erat kaitannya dengan Hindu. Di dalam buku itu sangat banyak dikutip ayat-ayat/sloka-sloka Veda dan penafsiran-penafsiran mengenai Veda yang menurut penulis dan para pendukungnya membenarkan Islam sebagai agama yang paling universal dan yang terakhir sehingga penulis dengan getolnya menyarankan umat Hindu berpindah agama menjadi Islam. Tulisan ini tidak untuk mendiskreditkan ajaran Islam, tetapi untuk menjawab pandangan-padangan dan mencoba memutarbalikkan tuduhan yang disampaikan oleh buku tersebut. Tentunya jawaban saya pada artikel ini tidaklah mewakili seluruh umat Hindu, karena saya hanyalah seorang yang baru mencoba belajar Veda dan sama sekali bukan expert dalam bidang spiritual kitab suci Veda yang sangat-sangat luas.

Dalam bagian “macam-macam kesaksian atas kebenaran” dan juga “sepatah kata untuk saudara-saudara penganut Hindu, Buddha, Kristen dan yahudi” disebutkan bahwa Ramalan /nubuat kehadiran Nabi Muhammad dituliskan dalam kitab suci agama-agama yang lain, termasuk Yahudi, Kristen dan Juga Hindu, dimana menurut penulisnya, hanya Muhammad-lah yang diramalkan seperti ini, tidak seperti Yesus yang diramalkan hanya dalam kitab suci agama Yahudi saja. Apa benar pernyataan penulis ini? Mari kita uji sebagaimana ramalan-ramalan kemunculan nabi-nabi agama Abrahamik yang mereka klaim sepihak untuk membenarkan agama mereka.

Kemunculan Nabi Muhammad telah diramalkan dalam kitab Atharva Weda , Kanda 20, Sukta 127, Mantra 1 – 3 dan juga dalam kitab Bhavishya Purana, Parva 3, Kandha 3, Adhya 3, Sloka 5 : “etan mitrantare mleccha acaryena samanvitah Mahamad iti Khyatah siyyagrasva samanvitah, Seorang guru (acarya) yang buta huruf akan datang, namanya Mohammad (Mahamad). Beliau akan mengajarkan agama pada kaum pemuja berhala (mleccha)”. Sampai disini Veda memang membenarkan Muhammad adalah seorang guru diantara kaum buta hurup dan para kaum mleccha yang barbar dan disitilahkan dengan sebutan “Sakyta Avesya Avatara”, atau kepribadian suci yang diutus oleh Tuhan untuk mengemban misi dan tugas tertentu sesuai dengan kontek jaman pada saat itu. Kita harus menghormati Muhammad sebagai seorang Nabi untuk kaum mleccha, namun apakah itu berarti umat Hindu harus masuk Islam sebagaimana buku yang disampaikan Maulana Abdul Haque Vidyarthi? Nanti dulu, mari kita kutip ayat-ayat yang lainnya.

Dalam kitab Bhavisya Purana, Pratisarga Parva, Khanda 3, ayat 16-33 disebutkan tentang pertemuan antara Maharaja Shalivahana dengan Issa di Srinagar, India. Selengkapnya, uraian tersebut adalah sebagai berikut : “Shalivahan, cucu Vikrama Jit akhirnya mengambil alih pemerintahan. Beliau mengalahkan gerombolan penyerang dari Cina, Parthian, Scythians dan Bactrians. Raja Shalivahan membangun tembok pembatas antara para Arya dengan para mleccha (non-Hindu), dan memerintahkan orang-orang mleccha itu untuk berdiamdi pinggiran wilayah India.

Suatu hari, raja Shalivahana, pemimpin kaum Sakhya, pergi ke Himalaya. Di sana, di wilayah bernama Hun (Ladakh, bagian dari kerajaan Kushan) raja yang perkasa itu bertemu seseorang yang duduk di atas sebuah bukit, yang tampak sangat saleh. Kulitnya cerah, dan mengenakan pakaian putih-putih. Raja Shalivahan bertanya kepada orang suci itu, dan yang ditanya menjawab : “Saya dikenal sebagai Anak Tuhan, lahir dari seorang perawan, saya adalah pemimpin orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan, berusaha keras mencari kebenaran sejati.”

Sang Raja bertanya lagi : “Apa agama Anda?” Orang itu menjawab : “Wahai Raja, saya berasal dari negeri asing, dimana tidak ada lagi kebenaran di sana dan kejahatan merajalela. Di tanah orang-orang yang tidak beriman, saya muncul sebagai Al-Masih. Namun raksasa Ishamasi menjelmakan dirinya dalam bentuk orang-orang biadab yang mengerikan; saya dibuang oleh orang-orang biadab itu…. Wahai Raja, dengarlah olehmu, agama yang saya bawa kepada orang-orang yang tidak percaya itu : setelah menyucikan hati dan pembersihan badan yang tidak suci, dan setelah mencari perlindungan dalam doa kepada Naigama, manusia akan berdoa kepada Dia Yang Kekal. Melalui jalan keadilan, kebenaran, meditasi, dan penyatuan jiwa, manusia akan menemukan jalan untuk mencapai Isa ditengah-tengah cahaya. Tuhan, seteguh matahari, pada akhirnya akan menyatukan seluruh jiwa yang mengembara dalam diri Beliau. Wahai Raja, dengan demikian, Ishamasi akan dihancurkan, dan wujud Isa yang penuh kebahagiaan, pemberi kebahagiaan, akan bersemayam selamanya di dalam hati; dan saya disebut Masehi (Imam Mahdi) …”

Perhatikan bahwa dalam percakapan itu, Yesus memperkenalkan diri dengan sebutan Issa. Sebutan itu pulalah yang digunakan dalam naskah berbahasa Pali yang tersimpan dalam vihara Buddha yang ditemukan oleh Nicolas Notovitch dan juga ramalan dalam Bhavisya Purana yang menyebutkan bahwa Isaputra akan lahir dari seorang ibu yang perawan yang mengajarkan orang-orang yang tidak percaya pada Tuhan.

Veda juga meramalkan akan kehadiran Buddha yang menjadi pendiri agama Buddha sebagaimana tertulis dalam Bhagavata Purana 1.3.24; “Pada awal jaman kali-yuga, kepribadian Tuhan Yang Maha Esa akan muncul di provinsi Gaya sebagai Buddha, putra dari Anjana, untuk membingungkan orang-orang yang dengki pada Tuhan.” Dan kemunculan dari Sankaryacharya yang melanjutkan misi Buddha juga disebutkan dalam Padma Purana – Uttara Kanda 25.7; “Dewa Siva berkata; mayavadam asac chastram pracchannam baudham ucyate mayaiva kalpitam devi kalau Brahmana rupena, Wahai Devi istriku, pada jaman Kali aku akan lahir sebagai seorang Brahmana dan menjelaskan Veda dengan filsafat palsu mayavada yang mirip dengan filsafat Buddha”

Jadi dari beberapa sloka Veda ini sudah sangat jelas bahwa yang diramalkan oleh Veda sebagai nabi bukan hanya Muhammad, tetapi Isa (Yesus) dan Buddha-pun diramalkan dalam kitab suci Veda. Nah, bagaimana dengan kalim yang mengatakan Muhammad adalah Nabi terakhir dan Islam adalah agama yang terakhir dan yang paling sempurna?

Ternyata Veda tidak hanya meramalkan nabi-nabi dan pemuka agama pada jaman Muhammad dan sebelumnya, melainkan masih ada ramalan-ramalan yang lain yang mengatakan bahwa akan hadir sosok agung yang lain dan bahkan jauh lebih mulia dari Muhammad dan juga Isa.

Dalam Mahabharata Dhana-dharma,Vishnu Sahasranama Stotra juga diramalkan akan kemunculan Avatara agung yang akan meluruskan ajaran mayavadi, beliau adalah Chaitanya yang muncul 500 tahun yang lalu dalam garis perguruan Vaisnava yang artinya setelah jaman nabi Muhammad. Adapun penggalan ramalannya adalah sebagai berikut; ” suvarna varno hemangovarangas candanangadi sannyasa-krc chamah santonistha-santi-parayanah, Dalam kegiatan-Nya pada usia muda Beliau muncul sebagai orang yang berumah tangga yang berwajah kuning emas. Anggota-anggota badan-Nya tampan sekali. Badan-Nya diolesi dengan tapal terbuat dari kayu cendana. Warna badannya seperti emas cair. Dalam kegiatan berikutnya, Beliau menjadi sannyasi dan Beliau tenang sentosa. Beliaulah tempat kedamaian dan bhakti tertinggi, sebab beliau membuat terdiam orang yang bukan penyembah dan tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan”.

Chaitanya muncul pada jaman penjajahan Islam di India dan kisah beliau yang paling terkenal adalah pada saat debat terbuka dengan penguasa muslim, Chan Kazi waktu itu. Beliau memukul telak penguasa muslim tersebut sehingga akhirnya menjadi pengikut Beliau dan Islamisasi di India berhasil di gagalkan.

Ramalan Veda yang lain yang belum terwujud dan sedang di nanti-nanti oleh pengikut Veda adalah tentang ramalan Kalki Avatara yang diyakini sebagai penjelmaan Tuhan pada akhir jaman kali-yuga dan juga sebagai tanda bahwa pralaya/kiamat sudah dekat.

Ramalan kemunculan kalki disebutkan dalam Bhagavata Purana, Agni Purana, Linga Purana (40.50 – 92), Brahmanda Purana (1.2.31. 76 – 106 dan 2.3.73.104 – 126), serta Vayu Purana (58.75 – 110). Dalam Bhagavata Purana 2.7.38 disebutkan; “yarhy älayeñv api satäà na hareù kathäù syuù päñaëòino dvija-janä våñalä nådeväù svähä svadhä vañaò iti sma giro na yatra çästä bhaviñyati kaler bhagavän yugänte, Pada akhir jaman Kali, ketika tidak ada lagi mata pembicaraan tentang Tuhan, bahkan ditempat tinggal orangorang yang menyebut dirinya orang suci, ataupun di tempat-tempat orang terhormat dari tiga golongan tertinggi, dan ketika kekuasaan pemerintahan di pindahkan ke tangan-tangan para mentri

yang dipilih dari para sudra atau yang lebih rendah dari itu, ketika tata cara pelaksaan korban suci tak diketahui lagi bahkan lewat kata-kata sekalipun, pada waktu itulah, Tuhan akan menjelma menjadi penghukum yang perkasa”. Dalam Bhagavata Purana 1.3.25 disebutkan; “athäsau yuga andhyäyäà dasyu-präyeñu räjasu janitä viñëu-yaçaso nämnä kalkir jagat-patiù, Setelah itu, menjelang pergantian dua yuga (Kali-Yuga dan Satya-Yuga), Tuhan Pencipta alam semesta akan menjelma sebagai Kalki dan menjadi putra Vishnuyasha. Pada waktu itu, para penguasa di bumi ini telah merosot menjadi perampas semata”. Lebih lanjut dikatakan dalam Bhagavata Purana 12.2.28; “çambhala-gräma-mukhyasya

brähmaëasya mahätmanaù bhavane viñëuyaçasaù kalkiù prädurbhaviñyati Tuhan Kalki akan muncul dalam keluarga seorang brahmana terkemuka, roh yang mulia bernama Vishnuyasha, di desa hambhala”.

Dan dalam Bhagavata Purana 12.219-20 disebutkan; ”açvam äçu-gam äruhya devadattaà jagat-patiù asinäsädhu-damanam añöaiçvarya-guëänvitaù vicarann äçunä kñauëyäà hayenäpratima-dyutiù nåpa-liìga cchado dasyün koöiço nihaniñyati, Kalki, Tuhan bagi alam semesta, akan mengendarai kuda putihnya yang bernama Devadatta, dan dengan pedang di tangan, Beliau mengembara keseluruh muka bumi memperlihatkan delapan jenis kesaktian bhatin-Nya dan delapan sifat ketuhanan yang dimiliki-Nya. dengan cahaya yang berkilauan dan mengendari kuda dengan kecepatan tinggi, Beliau akan membunuh para pencuri yang telah berani menyamar dan berkedok sebagai raja dan penguasa”

Jadi dari dua buah ramalan sosok yang lain selain Nabi Muhammad yang sudah muncul dan akan muncul setelah jamannya Nabi Muhammad sudah mematahkan anggapan yang disampaikan oleh Maulana Abdul Haque Vidyarthi yang mengatakan Hindu juga membenarkan Nabi Muhammad sebagai Nabi Terakhir dan membawa Islam sebagai agama paling sempurna dan paling akhir. Jadi anda harus mengakui bahwa Veda adalah sebuah buku pengetahuan spiritual tertua di dunia, yang paling komprehensif dan lengkap. Bukti adanya ramalan Yesus, Sang Buddha, dan Nabi Muhammad, serta ciri-ciri ajaran mereka dalam kitab Bhavisya Purana, Bhagavata Purana, dan lain-lain menunjukkan bahwa ajaran Veda-lah yang bersifat universal, bukan klaim yang disampaikan Maulana Abdul Haque Vidyarthi dalam bukunya yang lebih terlalu egosentris dan absur tersebut. Ramalan-ramalan ini juga membuktikan bahwa ajaran Veda tidak dimaksudkan hanya untuk golongan tertentu, sebagaimana yang sering terjadi dalam kitab-kitab yang lebih muda usianya.

Dari penjelasan-penjelasan dan penyampaian akan pembenaran bahwa Islam adalah agama terakhir menurut Veda, Maulana Abdul Haque Vidyarthi juga terkesan terlalu memaksakan. Veda diperlakukan sebagaimana halnya menafsirkan Al-Qur’an, sehingga terjadi distorsi makna dan ambiguitas. Padahal Veda harus dipahami secara muhkhya-vrtti, yaitu pemahaman langsung tanpa tafsir dan harus melalui parampara, garis perguruan. Sebagaimana pernah saya tuliskan bahwa Veda terdiri dari jutaan sloka dan amat sangat banyak cabang ilmu/kitab yang tidak mungkin dapat dipahami hanya dalam waktu singkat, apalagi hanya dengan mengandalkan membaca sebagai Veda. Veda juga tidak akan dipahami oleh mereka yang memendam egoisme-nya, apa lagi hanya untuk mencari pembenaran semu dan dangkal sebagaimana disebutkan dalam Bhagavad Gita 4.3 dan 13.19, ”bhakto’si me sakha ceti rahasyam hy etad uttamam”, “mad bhakto etad vinaya mad bhava yo papadyate”.

Dalam penulisan dan pengulasannya dari judulnyapun sudah ketahuan bahwasanya penulis tidak memahami Veda dengan benar. Kenapa saya katakan demikian?

Coba perhatikan bab “Muhammad dalam kata singkatan mistik dari kitab suci Hindu”, dalam sub-bab-nya malahan dijelaskan mengenai kata OM dalam kitab Buddha, padahal semua orang juga tahu bahwa Hindu dan Buddha adalah agama yang berbeda. Disamping itu penulis juga mengatakan bahwa Upanisad adalah kitab suci yang terletak setelah Veda. Bukankah Upanisad adalah bagian dari Veda itu sendiri?

Dalam bab yang lain yang berjudul “Misteri Swastika diungkap” terdapat sub-bab yang juga janggal, terdapat dua sub-bab yang aneh, yaitu “Swastika dalam Kitab Suci Hindu” dan “Swasika dalam kitab suci Veda”. Padalah kitab suci Hindu adalah Veda, kenapa dimasukkan dalam sub-bab yang terpisah? Tidakkah si penulis tahu bahwa Veda adalah kitab suci Hindu? Bukankah dalam Kata Pengantar dia mengatakan bahwa dia menguasai Veda, bahasa-bahasa tradisional dan juga kitab-kitab suci agama uang lain dengan sangat baik. Kenapa hal fundamental seperti ini saja tidak tahu? Betapa bodoh dan egoisnya sang penulis ini.

Dan dari penjelasan-penjelasan yang lainnya disebutkan bukti-bukti bahwa Ka’bah sudah di kenal pada jaman Veda dan hal ini distir agar para pembaca mengikuti pola pikir penulis dan mengatakan bahwa Al-Qur-an sesuai dengan Veda. Padahal kalau pembaca adalah orang yang telah memahami Veda, walaupun hanya sebagian sudah pasti akan menyimpulkan hal yang bertolak belakang dengan apa yang disampaikan penulis. Hal-hal yang disampaikan oleh penulis mengenai Ka’bah, Swastika Om kara dan sebagainya sudah pasti akan memunculkan rasa bangga seorang penganut Veda dan membuktikan Veda sangat-sangat lengkap.

Dengan memperhatikan bahwa ramalan Veda tentang Muhammad hanyalah salah satu dari sekian banyak ramalan nabi-nabi yang lain dan dengan adanya bukti ramalan akan adanya penjelmaan lain selain Muhammad malahan menunjukkan bahwa Vedalah yang universal, bukan Al-Qur-an. Kenapa? Veda dapat meramalkan semua kemunculan itu, tetapi apakah Al-Qur’an dapat meramalkan kemunculan Rsi Vyasa, Krishna, Rama, Kurma, Matsya, Vamana, Varaha, Nrsmimha dan penjelmaan-penjelmaan agung lainnya? Tidak bukan?

Saya sadar bahwa artikel ini tidak membahas semua masalah yang disampaikan dalam buku “Muhammad dalam kitab-kitab suci dunia” karya Maulana Abdul Haque Vidyarthi. Namun hanya dengan menunjukkan bahwa Muhammad bukan nabi/penjelmaan terakhir menurut Veda sudah merupakan bukti yang sangat kuat dalam membantah kesimpulan buku ini. Apalagi setelah membaca daftar isi yang terkesan ngawur, sudah dapat dipastikan bahwa isinyapun tidak konsisten dan jauh dari fakta.

Namun demikian isi dari buku ini sangat penting buat umat Hindu semua, karena memaparkan bukti-bukti keuniversalan dan lengkapnya kitab suci Veda. Seperti contohnya ayat-ayat Veda yang distir oleh penulis dan dijadikan bukti bahwa Ka’bah telah tertulis dalam kitab suci Veda. Bukankah dari sini kita dalam melanjutkan klaim bahwa Ka’bah adalah bekas tempat suci Hindu? Yang artinya sejarah yang disampikan Al-Qur’an mengenai asal-usul Ka’bah mau tidak mau terbantahkan. Meskipun “senjata” hasil karya Maulana ini digunakan oleh kaum muslim secara umum dalam menyerang dan berdakwah pada umat Hindu yang masih miskin pengetahuan Veda-nya, namun sayangnya penulis adalah seorang Ahmadyah yang merupakan salah satu dari sekian banyak aliran dalam Islam, sehingga jika bukti-bukti yang dia sampaikan dan digunakan oleh pengikut Veda yang paham betul akan Veda, mungkin tidak akan di-iya-kan oleh muslim yang lain. Jadi dalam kasus ini seolah-olah seperti “selaput selektif-fermiabel”. Sesuatu yang digunakan untuk menyerang ke “luar”, tetapi tidak “dibenarkan” jika digunakan ke “dalam”.

0 komentar:

Poskan Komentar

You must here