About The Author

This is a sample info about the author. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis.

Get The Latest News

Sign up to receive latest news

Senin, 01 Maret 2010

| 0 komentar |

Saya dan Teroris di Indonesia

Tagged in: Jejak Lamunan
Bagai terjaga dari tidur lelap, Indonesia kembali diguncang serangan bom bunuh diri yang kembali menelan korban jiwa. Jeda antara satu peristiwa memilukan tahun 2005 dengan kejadian 2009 terbilang cukup lama, hingga seakan sudah tidak ada lagi peristiwa buram tersebut. Lihat pengamanan diberbagai objek dan pusat keramaian yang terlihat ala kadarnya kini berubah sembilan puluh persen, sangat ketat. Entah berapa lama mereka akan melakukan itu, biasanya tidak lama, dalam beberapa bulan kedepan akan kembali ke kondisi awal, sistem pengamanan sekedarnya.





Peristiwa meledaknya bom yang kembali terjadi di kawasan kuningan Jakarta kembali dikaitkan dengan agama tertentu. Entah itu merupakan isapan jempol, namun waspada merupakan tindakkan yang paling bijak, bukan saja karena kabar akan betapa piawainya orang dibalik peristiwa-peristiwa tersebut merekrut pelaku-pelaku baru namun kewaspadaan juga hal penting karena korban tidak pilih asal dan latar belakang. Jika dilihat dari sisi korban, mungkin nasib saya sama saja dengan yang lain, bisa saja jadi korban, namun saya mungkin lebih beruntung di sisi lain, bahwa perekrutan dilakukan dengan pendekatan agama tertentu, dan agama itu bukan Hindu. Namun dengan kepiawaian sang tukang rekrut, mungkin saja seorang Hindu di doktrin untuk masuk agama tertentu dan diberi tugas melakukan pemboman. Para orang tua Hindu mungkin perlu waspada dan meningkatkan intensitas penanaman pemahaman Hindu dalam jiwa putra-putrinya sehingga tidak mudah diperalat.





Selain dikaitkan dengan agama tertentu, sang teroris juga di kaitkan dengan entitas negara tetangga. Ya, seorang tokoh yang paling dicari polisi adalah warga negara tetangga. Dan, pertanyaan klasik pun kembali akan muncul, kenapa di Indonesia? Apakah dinegara asalnya sudah tidak ada yang bisa dijadikan korban? Sulit menjawabnya. Dengan nada bercanda mungkin bisa dijawab bahwa Indonesia adalah negara yang amat sangat lebah dan tidak ada artinya dibanding negara lain. Betapa tidak, seorang warga negara saja sudah mampu memporak-porandakan Indonesia, bagai mana kalau negara tersebut ingin menguasai Indonesia, tentu dengan mudahnya.





Berkali-kali juga muncul rumor bahwa bom di Indonesia dalam rangka kebencian kelompok tertentu dengan Amerika. Nah, kalau memang demikian, kenapa bom tidak dilakukan di Amerika saja, bukankan akan langsung mengena pada sasaran. Apa karena mereka hanya sekumpulan cacing busuk yang hanya berani beraksi di Indonesia atau hanya memanfaatkan kelemahan dan mudahnya orang Indonesia diperalat? Ini juga pertanyaan yang tak mudah untuk dijawab, apalagi warga biasa seperti saya. Pasrah mungkin hal yang bisa saya lakukan, mengingat bom kerap terjadi dilingkungan minoritas negeri ini, seperti Bali. Apakah ini merupakan dorongan untuk musnahnya Hindu Nusantara jilid kedua? Ahh, mungkin saya berfikir terlalu jauh.





Belakangan muncul gosip bahwa salah seorang pelaku bom bersuai belasan tahun, jika ini benar hal tersebut sangat memperihatinkan. Jika ia seorang Hindu, patut di pertanyakan pendidikan dan moralitas Hindu keluarga mereka, jangan-jangan ayah-ibunya hanya melahirkan dan memberi uang. Sulit percaya memang, seseorang bersedia menjemput kematiannya untuk tujuan tertentu serta mengajak serta orang lain dalam kematian militansinya, namun itulah kenyataan. Sekali lagi butuh perhatian dan kesadaran kemanusiaan, bahwa salah seorang anggota keluarga melakukan hal yang lebih kejam dari binatang.





Beberapa hari setelah peristiwa bom, di televisi muncul banyak analisis, salah satunya analisis bawa berbagai peristiwa pemboman merupakan skenario yang disusun oleh kelompok tertentu. Mungkin ini sulit dipercaya, tapi mungkin patut untuk di cermati. Dibalik banyaknya kesuksesan polisi Indonesia mengungkap berbagai pelaku kriminal, salah seorang tokoh terosris asal negeri serumpun Indonesia tak jua tertangkap. Entah karena sang tokoh begitu pandainya atau aparat Indonesia belum memiliki kemampuan yang cukup untuk menangkap dalam waktu yang pendek. Jika dikaitkan dengan adanya skenario, bisa saja tokoh tersebut merupakan dongeng belaka, sehingga tidak mungkin akan tertangkap mengkipun di intai ratusan tahun. Namun jika dilihat dari kekuatan dan kemampuan aparat Indonesia dalam menyelesaikan berbagai peristiwa sangat sulit bisa difahami bahwa teroris bisa beroperasi di Indonesia, namun kenyataannya ledakan bom masih saja terjadi. Inipun sulit difahami orang bodong seperti saya, sinetron masih terlalu panjang.











'Terimakasih Ibu atas rahimmu yang memberi kehidupan Hindu, doamu ku harapkan setiap langkahku agar terhindar dari mereka. 'kan ku teruskan ke cucumu kelak, agar ia pun terhindar dari peristiwa kejam itu'

0 komentar:

Poskan Komentar

You must here